Wahai kau yang berdiri di depanku
Diawal kita bertemu aku tidak mengenal engkau
Kau memberi begitu banyak walau tak pernah ku minta
Tak ada pelit yang kurasa dengan semua pemberianmu
Wahai kau yang berceramah didepanku
Kau mengajarkanku banyak hal yang membuat banyak tau
Tanpa dipaksakan kau mengajari ku
Tanpa ku minta sedikitpun dari mu
Tetapi kau sangat memahami kebutuhanku
Wahai kau yang selalu bersamaku
Kau memberiku pengertian tentang hidup
Kau menuntunku keluar dari gulita yang tak nyata
Kau juga yang membebaskanku dari cengkraman kebodohan
Kau juga yang menyudahi masa-masa kelamnya gulita
Dalam lembaran hidup yang sudah,sedang dan yang akan kau yang memberi walau kau tak dianggap
Engkau selalu sabar diberi walau banyak persyaratan
Dan entah kapan selalu menuai tanya.
Wahai kau julukan pahlawan tanpa tanda jasa
Ada kekhawatiran di matamu
Menanti sesuatu yang tak pasti dan selalu tidak tetap
Sampai usiamu memudar dan Rambutmu perlahan memutih
Kau masih berdiri disana.
Wahai kau…
Tidakkah kau merasa terpojok? Dengan julukan untukmu?
Walau tugas kau laksanakan dengan sungguh
Tetapi kau tetap saja tak dihargai
Memang jalan telah dirintis namun banyak kelokan
Hingga buntu tak sampai tujuan
Wahai kau
Tugasmu memang berat
Namun prestasimu selalu yang terbaik sepanjang sejarah
Tak lelah mengukir prestasi bangsa dari waktu ke waktu
Dikaulah harapan bangsa atas anak-anak yang dititipkan
Kau selalu nyalakan pelita untuk negeri agar tak ada pekat menyelimuti.
2 Mei 2023 oleh Agustinus Nuradarmada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar